Tampilkan postingan dengan label Manusia dan Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manusia dan Alam. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 November 2020

Embung Yang Hilang di Ciroke Cingambul

Ciroke merupakan salah satu dusun yang secara administrative masuk ke Desa Cidadap Kecamatan Cingambul Kabupaten Majalengka. Posisinya berada di pinggir Danau Purba Cikijing/Sawahlega/Sawahtegal.

Lokasi Embung jaman dulu

Mayoritas penduduknya adalah bertani dengan pesawahan tadah hujan, jadi jika musim kemarau maka banyak pesawahan berubah jadi tegalan atau kalaupun mau bercocok tanam pada musim kemarau, penduduknya terpaksa harus menyedot air dengan menggunakan mesin pompa dari Sungai Cilutung di daerah Jatipamor yang posisinya di seberang pesawahan berjarak 1,8 km.

Jarak pengambilan air dari Sungai Cilutung

Masa penjajahan, pemerintahan Hindia Belanda ternyata mereka juga banyak membangun infrastruktur di wilayah kita, bahkan mereka mempetakannya secara detail tentang kondisi alam di sekitar kita. Di Ciroke berdasarkan peta Belanda tahun 1925 di sana tergambar jelas bahwa tahun itu ada sebuah Embung (kolam penampung air untuk pengairan) yang besar dengan luas kurang lebih 4,5 hektar di area pesawahan pinggir pemakaman.

Peta Belanda 1925, Bukti adanya Embung

Peta 1944; bukti Embung sudah tidak ada

Ini menandakan bahwa di Ciroke itu dari dulu membutuhkan sumber pengairan untuk pertanian. Namun sayang entah karena apa di peta tahun 1944 embung tersebut sudah tidak ada, dan yang tersisa hanya tinggal saluran airnya saja, sedangkan embung sudah berubah menjadi area pesawahan.

Pengaturan saluran air, salah satunya dari Embung

Saluran pengairan Sumur PUPR

Sekarang di area tersebut juga sudah tersedia saluran pengairan dari Sumur Bor PUPR, namun menurut pendudukan setempat, apabila sumur bor dihidupkan untuk pengairan pertanian, maka dampaknya sumur pompa air yang diperumahan penduduk jadi kering, akhirnya jarang digunakan dan sebagian penduduk kembali lagi menyedot air dari sungai Cilutung dan sebagian membiarkan sawahnya jadi tegalan sampai musim hujan datang. hr

Sabtu, 31 Oktober 2020

DANAU PURBA CIKIJING Itu Ternyata...

DANAU PURBA CIKIJING itu ternyata Jaladara Madiya Buwana

Keberadaan tentang sebuah danau purba yang berada di Kecamatan Cikijing, Cingambul, dan Talaga dulu pernah saya tulis tahun 2012, waktu itu saya tidak tahu apa nama danau tersebut makanya saya sebut saja Danau Purba Cikijing namun setelah membaca tulisan H. Ahmad Ma’mun Al Huda/Rd. Suparman Sastrawijaya tentang Neuleuman Dongeng Sasakala Talaga Manggung yang telah di upload di banyak blog, di situ tersurat nama Jaladara Madiya Buwana dan Purwa Jaladara Madiya Buwana.

Kirata Gb. Danau Purba Cikijing (Jaladara Madiya Buwana)

Sekilas Tulisan H. Ahmad Ma’mun

Tulisan H. Ahmad Ma’mun Al Huda atau Rd. Suparman menceritakan tentang Silsilah Kerajaan Talaga Manggung, Pendirian Kerajaan, dan riwayat Raja-raja Talaga Manggung, jadi tidak menitik beratkan pada hal danau purba, tapi tersurat dalam tulisan itu. Tulisan tersebut bersumber buku “Serat Rundayan Talaga trah Ratu Laubarangsari saking Pangeran Ariya Satjanata/ Bupati Panjalu“ dengan sampul bukunya dari kulit rusa mentah memakai kertas Daluwang beraksara Sunda Cacarakan yang ditulis oleh Raden Demang Kramadinata dari buku tersebut didongengkan secara turun temurun termasuk ke H. Ahmad Ma’mun Al Huda.

Dalam tulisan itu ada yang menarik bagi saya dalam hal mendukung tentang analisa danau purba yaitu Sanghiyang Rongkob, Alas Talaga, Nagari Padabenghar, Jawawut, dan Jaladara Madiya Buwana. Kedepan saya akan mencatut beberapa dari isi tulisan H. Ahmad Ma’mun Al Huda yang memakai bahasa sunda kuno pertengahan untuk memperkuat analisa saya mengenai danau purba ini.

SANGHIYANG RONGKOB

Kalau kita mendaki gunung Ciremai via jalur Apuy pasti melewati pos Sanghiyang Rongkob/Rangkah, tulisan mengenai siapakah sosok satu ini sangat sedikit sekali kalau kita googling juga, di tulisan Neuleuman Dongeng Sasakala Talaga Manggung ada sedikit tersurat mengenai sosok ini, disebutkan bahwa Sanghiyang Rongkob itu yang membuka Alas Talaga, membangun Nagari Padabeunghar, menyebarkan ajaran Hindu, dan bercocok tanam Jawawut.

Saterase  telatah Syailendra muspra dening prahara mayapada. kraton ngalih  maring tlatah ma-Ngetan karsane Mpu Sindo  lantlatah ma- Ngilen karsane Sanhamaya Puruhita ingkang keladi dados Sanghiyang Rongkob.

 

Prabu Dhaksajaya puputra Ki Cudamanik/Sanhamaya Puruhita (SanghiyangRongkob), sinatriya kang due pancen ngabedah alas Talaga hing tlatah Daksina Cereme tekan Djaladara Madiya Buwana ”hag sira mitembeyan tetanen Djewawut hing sabudere Djaladara mau, bakal pepangan cacah tekan sampurna ning Galuh”.


Wawamahadewa  puputra Maharadja Shakti  Adhimuya /Ajar Sukaresi; kangamurwadharma Tlatah Galuh Purwa anderek hingkang uwa Sanghiyang Rongkob ingkang sampun paripurna ing nagari Padabeunghar.


Sanghiyang Rongkob/Rangkah/Sanhamaya Puruhita itu adalah putra dari Mpu Daksa/Prabu Dhaksajaya (913 – 919) raja di Kerajaan Medang/Mataram Kuno yang masih kerabat dengan Kerajaan Galuh – Sunda. Sedikit sekali cerita tentang Sanghiyang Rongkob ini, Sanghiyang Rongkob punya anak/murid yaitu Mpu Sindo, Ketika terjadi gempa bumi meletus Gunung Merapi tahun 929, bencana ini mengakibatkan hancurnya karaton Kerajaan Medang/Mataram Kuno. Mpu Sindo mengalihkan kerajaan ke arah timur ke Jawa Timur sedangkan Sanghiyang Ropoh mengembara ke arah barat untuk membuka Alas Talaga mendirikan Nagari Padabeunghar yaitu daerah selatan Gunung Ciremai sampai sisi Jaladra Madiya Buwana (Danau Purba Cikijing). Di Nagari Padabeunghar ini Sanghiyang rongkob bermukim dan menyebarkan ajaran Hindu dengan mendirikan Kahiyangan Argalingga dan Puri Kapanditaan di daerah ini, yang sekarang disebut Pendetan sambil bercocok tanam Jawawut.



ALAS TALAGA

Merupakan satu kawasan hutan lebat jaman dulu di kaki gunung Ciremai yang dibuka oleh Sanghiyang Rongkob yang luasnya mulai dari sisi selatan Gunung Cereme sampai Jaladra Madiya Buwana untuk mendirikan Nagari Padabeunghardan bercocok tanam Jawawut.

….ngabedah alas Talaga hing tlatah Daksina Cereme tekan Djaladara Madiya Buwana ”hag sira mitembeyan tetanen Djewawut hing sabudere Djaladara mau, bakal pepangan cacah tekan sampurna ning Galuh”.

 

Alas Talaga yang dimaksud, talaganya ini adalah Jaladara Madiya Buwana jadi Kerajaan Talaga Manggung itu namanya di ambil dari kata Talaga (talaga/danau; Jaladara Madiya Buana) dan Manggung (tampil, berdiri, tampi ke pentas) sebab kalau asumsi bahwa diambilnya dari Situ Sangiang, situ sangiang itu muncul setelah ada kerajaan, tepatnya pada masa akhir kepemimpinan Prabu Abirawa/Dharmasuci II yang merupakan raja ke-3 Kerajaan Talaga Manggung.

NAGARI PADABENGHAR

Nama Padabenghar ini pernah disebut oleh seorang pengembara keturunan Padjadjaran yaitu Bujangga Manik. Jaman sekarang Padabenghar itu adalah nama sebuah desa di Kabupaten Kuningan yang posisinya di sebelah utara Gunung Ciremai. Namun dalam tulisan H. Ahmad Ma’mun Al Huda/Rd. Suparman Sastrawijaya disebutkan Nagari Padabenghar itu adalah satu kawasan yang didirikan oleh Sanghiyang Rongkob di satu tempat yang dibangun Kahiyangan Argalingga dan Puri Kapanditaan, Sambil bercocok tanam Jawawut, sekarang jadi Lembur Pendetan di daerah Sangiang. Nagari Padabeunghar ini hancur Amarga Prahara Cereme (badai api Ciremai) yang membakar Apuy sampai Citaman. Kemungkinan Sanghiyang Rongkob juga meninggal akibat kejadian ini.

JAWAWUT

Sebelum ada padi di daerah ini, kita makanan pokoknya adalah Jawawut, jawawut ini adalah sejenis tanaman Gandum, merupakan serealia berbiji kecil yang pernah menjadi makanan pokok masyarakat Asia Timur dan Asia Tenggara sebelum budidaya Padi dikenal orang.

Prabu Dhaksajaya puputra Ki Cudamanik/Sanhamaya Puruhita (SanghiyangRongkob), sinatriya kang due pancen ngabedah alas Talaga hing tlatah Daksina Cereme tekan Djaladara Madiya Buwana ”hag sira mitembeyan tetanen Djewawut hing sabudere Djaladara mau, bakal pepangan cacah tekan sampurna ning Galuh”.

 

Tumbuhan Jawawut; Sumber: Wikipedia

Jawawut ini ditanam oleh Sanghiyang Rongkob di Alas Talaga dan daerah Jaladra Madya Buwana. Taun 1209 mulai Pare masuk dibawa oleh Palembanggunung dan Tan Bong Siu dari Sriwijaya Palembang.

DANAU PURBA JALADARA MADIYA BUWANA 

Adalah dulunya sebuah telaga/situ besar seperti laut/segara, makanya namanya Jaladara Madiya Buwana (laut/segara ditengah daratan), penamaan ini karena memang wilayah ini jauh dari laut selatan dan laut utara jawa. Tahun 2012 saya menulis danau ini dengan sebutan Danau Purba Cikijing

Danau ini diperkirakan terbentuk berbarengan dengan lahirnya gunung Cereme generasi kedua (Gn. Api Gegerhalang). Gunung Cereme sekarang merupakan gunung api generasi ketiga, generasi pertamanya ialah suatu gunung api plistosen dan generasi keduanya adalah Gunung Api Gegerhalang yang meletus dan membentuk kaldera yang memunculkan gunung Cereme sekarang dan diperkirakan terjadi sektir 7.000 tahun yang lalu (wikipedia.org; Situmorang,1991).

Peta danau purba Jaladara Madiya Buwana

Jaladara Madiya Buwana ini berada di ketinggian 600-650 mdpl dengan luas kalau di ukur pakai google maps ± 29,07 km² dikelilingi gunung/bukit sebelah utara G. Ciremai, sebelah selatan G. Cijolang, sebelah Timur G. Pagenteran dan Pasir Soang, sebelah barat G. Batuhaji dan G. Picung. Di ujung timur mengalir Sungai Cikijing dari G. Pagenteran, dan di sebelah barat dan selatan mengalir masing-masing sebuah sungai yang berfungsi sebagai tempat buangan air dari danau tersebut.

GEMPA BUMI BESAR

Lalu kenapa dan kapan danau purba tersebut mengering, sekarang kita memang suka melihat daerah yang ditenggarai sebagai danau purba berupa sawah tadah hujan dan sebagian kecil masih berupa rawa-rawa. Dalam tulisan H. Ahmad Ma’mun Al Huda/Rd. Suparman Sastrawijaya ada tertulis:

Analika  sang Abirawa  medal  ing mayapada  buwana gonjang ganjing kedadeyan prahara lindu, lan Djaladara Madiya Buana bengkah ngewangun Cilutung lan tegalan amba Talagasaat  perenahe ing Daksina Alas Talaga

 

Prabu Abirawa (1146 – 1219) naik tahta dalam usia 17 tahun artinya pada taun 1129 terjadi gempa bumi besar yang ngakibatkan bobolnya Jaladara Madiya Buwana ke arah selatan sekarang daerah Cingambul sehingga kering berubah jadi tegalan dan muncul retakan tanah dari mulai G. Gegerhalang yang sekarang jadi Sungai Cilutung. Pada masa kepemimpinan Prabu Abirawa/Dharmasuci II danau ini disebut Purwa Jaladara Madiya Buwana dan dijadikan pesawahan. Sekarang daerah ini ada yang menyebut Sawahlega/Sawahtegal/tegal/ranca. (hr)


Sumber:

Kamis, 29 Oktober 2020

Sejarah Desa Cikijing (3)

Telepon Belanda 

Setelah membangun infrastruktur jalan, di desa Cikijing juga di pasang jaringan telepon untuk memudahkan komunikasi dari pos Belanda ke markasnya di Talaga dalam peta tahun 1918 tertulis een telefoonlijn loopt lang de wegen: Bandjaran-Telaga-Sindang-Tjikidjing-Tjipadoeng verder oostwaarts en Tjikidjing-Tjigamboel-Sadapaingan-Gardoe vender zuidwaarts. dan dalam peta US. Army tahun 1944 sangat jelas tergambar jalur kabel teleponnya.


Di peta terlihat garis putus putus titik strip berwarna biru di jalan raya cikijing dari pos penjagaan belanda yang sekarang jadi Kantor Pos sampai ke Talaga.

Bangsa Cina

Bangsa Cina masuk ke desa Cikijing tidak ada yang tahu pastinya, tapi kalau merujuk pada cerita Talaga Manggung, bangsa cina masuk ke daerah talaga itu tahun 1209. Di daerah Cikijing tahun 1925 sudah terdapat makam cina yang letaknya antara Cidulang dan Sindangpanji.


Tan Gwan Hin
Geboren op 16 juni 1925 te Tjikidjing
Overleden op 22 mei 1948 te Tjimahi, Mil. Hospitaal
Militaire rang van Chin. Sld. Bew. Bat. bij het onderdeel KNIL.


Bangsa cina di cikijing mungkin awalnya untuk berdagang, namun akhirnya menetap bahkan melahirkan anak di Cikijing, tanggal 16 Juni 1925 lahir seorang tionghoa di Cikijing bernama Tan Gwan Hin, dan besar menjadi anggota militer KNIL. Dia meninggal di rumah sakit militer Cimahi tanggal 22 Mei 1948 dengan pangkat Chin.SLD.Bew.Bat.

Di desa Cikijing bangsa cina banyak yg berdiam di blok Cirawa dan Salasa sekarang. Tahun 1941 terjadi huru-hara Pacinaan di Majalengka dan Talaga termasuk berimbas ke bangsa Cina di Cikijing, mereka eksodus ke wilayah Cirebon dan Kuningan, meninggalkan rumah dan tanahnya begitu saja.

Pusat Desa dan Hunian 

Awalnya desa Cikijing itu di blok Ahad dengan pusatnya Tajug At Taqwa sebelah selatan jalan raya, terus menjalar ke Blok Rebo, Mayasari, dan Jumaah (Cipanji Masuk ke Jumaah karena baru sedikit rumah), dan di batasi oleh Astana Gede dan Sawah Namun dengan pesatnya pertumbuhan penduduk serta kedatangan bangsa luar (Belanda dan Cina) dengan di iringi pembangunan jalan raya, maka hunian penduduk berkembang kearah Cirawa lalu Salasa (Kaum & Babakan) pusat desa pun beralih ke Salasa makanya ada istilah Cikijing Timur/Landeuh/Hilir dan Cikijing Barat kenapa tidak ada istilah Tonggoh/Girang karena bagi orang Cikijing tonggoh dan girang itu adalah Colom sebab sumber air berada di Colom. Jadi pembangunan di cikijing itu berubah setelah adalah Jalan raya. Pembangunan kantor desa, masjid, alun-alun, pasar, semua di pinggir jalan, Astana Gede yang tadinya di pinggir desa, karena ada pembangunan jalan raya akhirnya jadi di muka desa.

1. Bale Desa

Tahun 1925 desa Cikijing sudah padat lahan hunian dan pusat desa sudah beralih ke tempat yang sekarang, tahun 1980 tepatnya tanggal 21 April bale desa Cikijing dibangun dua lantai dijaman kuwu A. Memed waktu saya kecil bale desa sudah dua lantai halamannya ada taman dan di sisi sebelah barat ada alat-alat pedaman kebakaran tradisional yang digantung pada sebuah gawang. Kemudian tahun 2007 di masa Kuwu Mokh. Syihabudin, SH. bale desa Cikijing di rehab lagi dan terakhir tahun 2019 di rehab oleh kuwu Lili Solihin.


2. Masjid Desa

Waktu jaman Eyang Nalagati tajug At Taqwa bisa dianggap masjid desa sebab yang pertama ada mesjid. Seiring pertumbuhan pendudukan dan perkembangan Islam karena masjid tersebut kurang luas akhirnya di bangun masjid yang lebih besar di pinggir jalan raya, mesjid yang dibangun ini bernama mesjid Al Akbar dan merupakan masjid terbesar di Kec. Cikijing sampai dengan sekarang. Tak ada yang tahu kapan masjid ini berdiri, hanya kalau melihat peta ternyata 1925 juga sudah ada masjid desa ini. Tahun 1979 masa Kuwu A. Memed setelah membangun pasar, mesjid ini di dibangun dengan gaya modern pada waktu itu, setelah itu tahun 2006 masa Kuwu Mokh. Syihabudin, SH mesjid Al Akbar di pugar dan dijadikan 2 lantai.

3. Alun-alun

Awalnya alun-alun desa Cikijing itu di depan bale desa dan depan mesjid, namun karena dirasa terlalu kecil akhirnya pindah mengambil sebagian lahan Astana Gede yang untuk dijadikan lapangan yang pinggirnya tumbuh pohon Ki Hujan ini terlihat dari peta tahun 1944, dan alun-alun awal berubah jadi halaman masjid, tahun 1979 ketika masjid diperluas di halaman masjid ini ada taman dengan di tengahnya kolam air mancur yang berbentuk lingkaran, saya juga suka ngojay dan suka dicarekan kalau ngojay didinya teh. Sisi kolam ke arah jalan ada Menara Mesjid jangkung dan di bawahnya ada tiang untuk menyimpan TV desa. Jadi katanya sebelum saya lahir itu, warga desa Cikijing kalau mau nonton tv itu ke bale desa lalajo tv leutik stroom na ku accu bari misbar.

4.   Pasar

Awalnya penduduk berdagang di emperan jalan perempatan Sukaraos, lalu pindah ke lahan Astana gede dan tahun 1978 di bangun Pasar Cikijing pada masa kuwu A. Memed.

Sedangkan Kantor Kecamatan, KUA, Pos, Puskes, Koramil, dan Lapang itu menggunakan lahan Eks orang china yang ditinggalkan begitu saja itu tepatnya dari depan Al Akbar sampai Mts PUI Cikijing sekarang. Namun entah tahun berapa menurut cerita 4 orang Cikijing menelusuri pemilik tanah tersebut dan akhirnya tanah cina itu dibeli. Setelah itu Pos pindah ke Cipanji, KUA pindah ke Jl. Rama dan Kantor Kecamatan, Puskes, Koramil pindah ke Cimukti.

Irigasi 

Tahun 1925 sudah ada Irigasi yang dibangun belanda yaitu di daerah Pasir Rompang dengan cara menyodet Sungai Cikijing untuk mengairi pesawahan di daerah blok Cihagi, Sawahlega dan di daerah Cirawa dengan mengalirkan sumber air Citambilung ke pesawahan dan berujung di Sungai Cikijing.


Irigasi ini mampu mengairi areal pesawahan di Sawahlega, dan di irigasi ini dulu masyarakat sering bermain air sambil ngala remis. 


Demikian Cacarita Desa Cikijing ini ternyata berseri mah cape ada beban. Sebenarnya masih banyak carita-carita desa Cikijing lainnya, kedepan mah tidak akan berseri. Cerita ini hanya remah-remah yang tercecer yang kebenarannya masih harus didukung bukti-bukti dan fakta yang kuat. Sekarang kita pelaku sejarah, berkaca dari lampau, ternyata arsip dan dokumentasi termasuk media publikasi sebuah desa itu perlu. Semoga tulisan ini bermanfaat. (hr)

Jumat, 23 Oktober 2020

Danau Purba Cikijing

(Tulisan Hutan Rimbun tahun 2012 yang di muat ulang di blog ini)

Silahkan ini di cap sebagai isapan jempol semata, saya tidak peduli, karena saya bukan siapa-siapa dan secara keilmuan pun sangat-sangat jauh untuk dipecaya sebagai kajian ilmiah, apalagi saya tidak bergelar strata pendidikan karena biasanya orang lebih menganggap ilmiah pada tulisan yang dibuat orang bertitel.

Ini hanyalah sebuah analisis prematur saya terhadap lingkungan saya sendiri yang kebetulan saya dilahirkan dan dibesarkan di Cikijing, Jawa Barat. Dimana kawasan ini tepat berada di kaki gunung Cereme yang dari tahun 2004 statusnya meningkat menjadi Taman Nasional Ciremai (BTNGC).


G. Ciremai dilihat dari Wd. Darma


Dasar Pemikiran

  1. Melihat dan membaca tentang Danau Purba Bandung di internet dan teringat gurauan saya di facebook mengenai bahwa ‘’Cikijing teh kurang leuwih sarua jeung Bandung....”
  2. Saya jadi teringat dulu teman saya cerita tentang sesepuhnya yang pernah bilang bahwa Cikijing itu merupakan sebuah danau dan akan kembali jadi sebuah danau.
  3. Akhirnya saya buka google map dan saya bandingkan dengan peta situs danau purba bandung.. eh ternyata ada kemiripan.
  4. Pikiran saya langsung menjurus ke sejarah Talaga Manggung karena Cikijing memang dulunya dibawah kewadanaan Talaga.


Danau Purba Cikijing
Danau purba ini entah apa namanya, mau disebut Danau Purba Talaga? silahkan! hanya mungkin lucu juga sebab danau kan kurang lebih artinya sama dengan Telaga (talaga; sunda) jadi selanjutnya kita sebut saja Danau Purba Cikijing ya... hehehe... silahkan protes !


Danau ini terbentuk berbarengan dengan lahirnya gunung Cereme generasi kedua (Gn. Api Gegerhalang). Gunung Cereme merupakan gunung api generasi ketiga, generasi pertamanya ialah suatu gunung api plistosen dan generasi keduanya adalah gunung Gegerhalang yang meletus dan membentuk kaldera yang memunculkan gunung Cereme sekarang dan diperkirakan terjadi sektir 7.000 tahun yang lalu (wikipedia.org; Situmorang,1991). Namun ketika Gegerhalang meletus dan melahirkan gunung Cereme, danau ini mungkin terkubur material letusan Gegerhalang sehingga terjadi pendangkalan dan berubah menjadi rawa (Rancah_Sunda).

Danau Purba Cikijing ini berada di ketinggian 600-650 mdpl dengan luas ± 115.635.191 m² yang membentang dari timur hingga ke barat, di ujung barat dari danau ini mengalir sungai Cilutung dan sebelah selatan mengalir pula sebuah sungai ke arah ciamis yang sekarang sudah hilang dan mungkin berubah jadi jalan raya Cingambul-Ciamis. Sungai sungai ini berfungsi sebagai tempat buangan air dari danau purba tersebut.


Kerajaan Talaga Manggung 
Sejarah tentang kerajaan Talaga Manggung memang masih banyak ditelusuri dan diteliti, diantaranya dimanakah letak kerajaan ini ? kenapa di beri nama kerajaan Talaga Manggung ?

Kalau melihat dari arti kata; Talaga(Danau), Manggung (atas), atau bisa juga dari kata Panggung; Manggung berarti naik ke panggung/atas, jadi Talaga Mangggung berarti danau yang berada di atas. Definisinya berarti kerajaan Talaga Manggung adalah sebuah kerajaan yang terletak di sebelah barat gunung Cereme dekat sebuah danau yang posisi danau tersebut berada di dataran ketinggian.

Penalaran ini setelah saya membaca tulisan Hawe Setiawan tentang Bujangga Manik; seorang pengembara keturunan bangsawan dari kerajaan Pakuan yang pernah melintasi daerah sekitar gunung Cereme.

1195. Itu ta bukit Caremay,
tanggeran na Pada Beunghar,
ti kidul alas Kuningan,
ti barat na Walangg Suji,
inya na lurah Talaga.

1715. pramata ko(m)bala hi(n)ten,
sarba e(n)dah sagala.
Pakarang cacaritaan,
Carita Darma Kancana,
ti manggung kula(m)bu hurung,

1720. ti ha(n)dap kulambu le(ng)gang,
paheutna naga pateungteung,
di tengah naga werati,
ti handap naga paheu(m)pas,
Werak ngigel di puncakna,

(Sumber : Makalah Bujangga Manik /Hawe Setiawan, diunduh tgl. 24 Nop ‘12)


Sampai saat ini masyarakat memilih Situ Sangiang sebagai daerah dimana pernah berdiri kerajaan Talaga Manggung ini, memang masuk akal juga kalau melihat letak geografisnya, Situ Sangiang berada di ketinggian 1.000 mdpl persis di bawah gunung Gegerhalang dan disekitar Situ Sangiang sebelah timur terdapat kawasan yang datar dan cukup luas untuk sebuah kerajaan, menurut perkiraan saya tempatnya sekarang antara Citaman, Sangiang, dan arah ke Bunut. Hanya saja kemungkinan pas kejadian gunung Cereme meletus dahsyat keadaan sekitarnya banyak berubah, kalau memperhatikan Gegerhalang sebelah barat sekarang, bekas longsorannya masih terlihat jelas. Tapi ada juga yang bilang bahwa letaknya ada dibawah Situ Sangiang di daerah Desa Kagok Kec. Banjaran yang bernama daerah Walang Suji.

Masih simpangsiurnya letak dimana istana kerajaan ini memunculkan berbagai kemungkinan-kemungkinan karena tidak sedikit pula yang menyakini bahwa kerajaan Talaga Manggung ini perkiraannya berada di daerah ibu kota Kec. Talaga sekarang, letaknya memanjang dari Desa Salado, Talaga Wetan, sampai ke Desa Talaga Kulon sebab memang hanya daerah itu yang dianggap datar dan cukup luas untuk sebuah kerajaan, jika keberadaan Danau Purba Cikijing ini benar, berarti cerita danau purba inilah yang dipakai untuk nama kerajaan Talaga Manggung karena Danau Purba Cikijing ini berada di ketinggian 600-650 mdpl. Apakah waktu jaman kerajaan masih berupa danau atau sudah berubah jadi Rawa (Ranca_sunda) ? itu perlu penelitian lebih lanjut.

Mengapa Bujangga Manik tidak menyebut-nyebut daerah danau atau rawa ini, mungkin karena waktu itu dia hanya menelusuri sebelah utara gunung Cereme. Dari daerah Salado, Ganeas, Cipeucang, Sampai Kota Talaga, memang merupakan bukit yang landai kecuali sebelah selatannya hampir berupa jurang karena mungkin waktu dulu itu merupakan tebing yang berbatasan dengan danau purba, sehingga menurut saya tepatlah kalau misalkan daerah ini dicurigai sebagai lokasi kerajaan, dari sanapun leluasa melihat seberang danau yaitu gunung Bitung dimana tempat Raden Panglurah bertapa dan memang pada awalnya juga raja Talaga Manggung ini merupakan keturunan dari kerajaan Galuh yang memang posisinya berada di selatan gunung Bitung.


Letak Geografis
Berada di kaki gunung Cereme sebelah selatan berbatasan dengan Kab. Kuningan sebelah Timur dan Kabupaten Ciamis sebelah Selatan. Danau ini secara administratif masuk wilyah Kec. Cikijing, Kec. Cingambul, dan Kec. Talaga di Kabupaten Majalengka. Dahulu wilayah ini masuk kedalam kekuasaan kerajaan Talaga Manggung, mungkin saja nama kerajaan juga di ambil dari cerita orang dulu bahwa kerajaan ini terletak di dekat sebuah Danau yang berada di kaki gunung, yaitu Danau Purba Cikijing ini, sebab logikanya bahwa setiap manusia demi penghidupannya selalu memilih tempat yang lapang dan dekat dengan sumber air.


Danau ini di aliri Sungai Cilutung yang berhulu di gunung Gegerhalang, sekarang ini mungkin karena pergeseran jaman sungai ini dari hulunya sudah mengering adapun sekarang di wilayah desa Campaga masih mengalir dengan debit yang masih sangat besar, itu karena kantong kantong sumber air di wilayah Cikijing yang masih tersedia dan mengalir ke sungai ini.

Areal yang dicurigai sebagai Danau Purba Cikijing, ini memang berupa cekungan yang dikelilingi gunung dan perbukitan, di sebelah timur ada Gunung Panenjoan, Perbukitan Cipadung, di sebelah Selatan ada Gunung Bitung, di sebelah Barat ada perbukitan Cibeureum dan Cikeusal, di sebelah Utara ada Gunung Gegerhalang dan Cereme.


Sumber Air 
Hampir semua mata air di kawasan Gunung Gegerhalang sebelah selatan mengalir kedaerah Danau Purba Cikijing, selain danau ini merupakan penampungan air hujan, sungai utama Cilutung juga mengaliri danau ini, banyak sungai yang telah menghilang airnya, dan mengalami penyempitan.

1. Sungai Cilutung 
Sungai ini berhulu di Situ Cileunca persis di bawah puncak Gegerhalang sebelah selatan, diareal ini tepatnya di bawah lokasi situ terdapat maka kuno yang mulai tersiar kabarnya sekitar tahun 2001, itu setelah dilakukan penelusuran oleh anggota Karang Taruna Ciinjuk. Areal pemakaman ini dikeramatkan, terutama makam Embah Jambrong (Banyu Geni), jumlahnya sangat banyak bahkan masih ada yang belum di bersihkan dari semak belukar. Memang sangat aneh ditengah hutan belantara ada makam yang berjumlah hampir 40 makam. Apakah disana dulunya perkampungan ? memang perlu penelusuran lebih dalam.

(Bendungan Cilutung yang sudah mengering di desa Gunungsirah)

Sungai Cilutung mengalir melewati beberapa daerah diantaranya Cipulus, Gunungsirah, Colom, Jagasari, Gumuruh, Sindang, Jatipamor, dan Campaga. Sekarang sungai ini dari Gegerhalang sudah kering dan sumber airnyapun hanya berasal dari leuwigeni(Langkob) di desa Jagasari.

(Sumber air Cilutung sekarang di Leuwigeni desa Jagasari)


2. Sungai Cipadung
Sungai ini juga mengalir ke Cilutung, tepatnya berada di desa Sindangpanji, dan sumber airnya dari Gunung Panenjoan, sungai ini bisa dikatakan telah mengering karena terpengaruh musim, apabila musim kemarau datang sungai ini mengering. Di sungai ini karena kondisi tanahnya curam, maka banyak di temui curug-curug kecil dengan ketinggian 2-3 meter sayang lokasinya tidak terawat, padahal ini merupakan aset bagi Kec. Cikijing dalam segi pariwisata disamping usaha pelestarian alam. Aksesnya pun sangat mudah karena dekat dengan jalan raya Cikijing-Kuningan. Dari kota Cikijing hanya memerlukan waktu tidak kurang dari 15 menit. 
(Salah satu Curug Batulawang di sungai Cipadung)

Komunintas AIR (Aktivitas Rimbawan) pada bulan Maret 2012 mencatat ada 7 buah Curug yang ada di aliran sungai ini dan diberi nama Curug Batulawang. Menurut cerita para orang tua, bahwa ada satu curug lagi yang dulu sangat terkenal dan sampai terlihat ke daerah Campaga.

(Cekungan batu di sungai Cipadung)

Di Cipadung batuannya berupa batuan cadas yang sering dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk bahan pembuatan Batu Nisan dan Batu Asahan, kalau kita main kesini bekas tempat galiannya yang berupa cekungan-cekungan menjorok ke dalam tebing menyerupai goa-goa kecil, namun jalan dari Curug satu sampai tujuh masih dalam tahap pembenahan dan arealnya pun masih perlu ditata sehingga nantinya memudahkan pengunjung yang berniat kesana.


Sawahlega (Rancah)
Inilah kawasan sekarang yang ditenggarai sebagai bekas Danau Purba Cikijing, di kawasan persawahan ini pun terbagi-bagi lagi menjadi beberapa nama sesuai dengan wilayah, mitos, legendanya masing masing. Namun satu hal yang sama bahwa hampir merata kawasan ini merupakan sawah dalam (Rancah/Rawa). yang masih saya ingat waktu kecil sekitar tahun 1989 di bagian tengah dari kawasan Sawah Lega ini, yang sekarang jalan Cikijing-Ciamis, para petani untuk memanen padinya harus menggunakan perahu kecil, sebab kedalaman lumpurnya pun pada waktu itu sampai paha bahkan bisa mencapai pinggang orang dewasa.

(Sawalega dilihat dari Cipadung)

Dikawasan sebelah timurnya banyak sekali dijumpai Kijing dan Remis; sejenis kerang yang berwarna kekuning-kuningan berbentuk menyerupai hurup D, dan dari nama sejenis kerang inilah akhirnya muncul nama wilayah Cikijing.

(Kijing yang sudah jarang ditemui di Cikijing)

Kesimpulan 
Danau Purba Cikijing memang masih perkiraan, sebab perlu adanya penelitian dari orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Namun apabila benar adanya, maka banyak yang akan tergali dari sejarah di sekitar danau ini. Kebanyakan sejarah berawal dari cerita dulu atau Folklor, namun alangkah bijaknya apabila kita tidak terlalu cepat memvonis bahwa itu adalah hanya sebatas mitos atau legenda. Di Rusia saja mereka memerlukan waktu 20 tahun untuk meneliti keberadaan danau purba yang tertimbun es. 

Belum lagi riwayat-riwayat tokoh dahulu di kita yang sangat berjasa dalam upaya ngababak suatu wilayah, yang berjasa dalam penyebaran Islam, sehingga kita sekarang nyaman berdiam di wilayah ini. (Hal ini belum sempat saya telusuri, karena pasti memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit) 

Kita sebagai orang Cikijing khususnya, mengapa tidak mencoba menggali potensi sejarah, alam, dan budaya kita? apa karena kita penduduk yang mayoritasnya adalah pebisnis ? saya takut ini akan berdampak nantinya, saya yakin kedepan, bahwa seiring dengan kebutuhan manusia akan hunian, maka tanah akan semakin sempit, hutan akan semakin gundul, dan air akan semakin kering. Singkatnya... MUSIM KEMARAU KEKERINGAN, MUSIM HUJAN KEBANJIRAN DAN KELONGSORAN.

Dengan awalnya mengenal sejarah, mengenal wilayah, dan bisa melihat dampak dari kemerosotan kualitas lingkungan di wilayah kita, Saya hanya berharap bahwa nantinya ada orang yang mampu untuk melakukan terobosan dalam upaya pelestarian lingkungan di wilayah Kec. Cikijing ini DEMI KEPENTINGAN BERSAMA.

hr '12